Selamat datang di website GREEN Persada Enviro

Green Persada Enviro merupakan perusahaan Nasional yang bergerak di bidang jasa konsultan ling ...

Read More ...
Video Profil Company


669908
Quality, Efficiency & Sustainability is Our Commitment                                GO GREEN with US

Info

Pengembangan Pertanian Peternakan Terpadu Sebagai Subtitusi Ekonomi Non Tambang


Kegiatan pasca tambang yang diikuti program mine closure seyogyanya dituntaskan dengan program pemberdayaan lahan yang tersebut. Pemilihan metode pananganan yang tepat sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan akhir kegiatan pertambangan, yaitu pemberdayaan lahan yang berdampak positif baik terhadap lingkungan, sosial kemasyarakatan maupun ekonomi wilayah.

Dari banyak metode yang umum dilakukan, kegiatan pengembangan pertanian terpadu merupakan satu metode ampuh untuk mencapai tujuan tersebut dan mendorong kemandirian pengelolaan lingkungan pasca tambang secara berkelanjutan. Pertanian Terpadu merupakan suatu proses budidaya yang didalamnya berisi serangkaian kegiatan produksi yang mengutamakan harmonisasi aliran energi, menuju proses produksi yang efisien dan berdampak positif baik dilihat dari aspek lingkungan, hasil produksi maupun nilai ekonomis proses yang dijalankan.

Efisiensi proses tersebut dimungkinkan karena sistem pertanian terpadu yang akan dikembambangkan menerapkan serangkaian proses produksi yang menggunakan prinsip 3 R, yaitu reduce (mengurangi dampak negativ yang mungkin timbul), reuse (memanfaatkan semaksimal mungkin sumber daya bahkan yang sudah tidak bermanfaat untuk menjadi bermanfaat) serta recycle (mendaur ulang produk limbah menjadi sumber ‘energi’ baru bagi proses produksi yang lain.

Efisiensi akan semakin meningkat, mengingat prinsip 3 R tersebut akan menghasilkan 4 produk secara simultan berupa Food (pangan), Feed (pakan), Fertilizer (pupuk organik padat dan cair serta produk turunanya berupa pertisida hayati dan nabati) serta Fuel (bahan bakar organik dan alami yang baru dan terbarukan). Contoh diagram aliran energi yang berbasis peternakan dapat dilihat pada gambar 1.

 

siklus energi

 

Gambar 1. Diagram alir energi berbasis peternakan pada sistem pertanian terpadu

 

Jika dilihat dari kegiatan eksisting yang telah berjalan,  PT Green Persada telah mendesign sedemikian rupa, melalui formulasi komposisi vegetasi dan metode budidaya tertentu, yang pada akhirnya nanti akan bermanfaat dan menunjang pengembangan pertanian terpadu.

Pengembangan pertanian terpadu ini diyakini akan mampu menyelesaikan permasalahn yang mungkin timbul pada kegiatan pasca tambang.

Persoalan pertama berupa pengelolaan lahan kritis pasca tambang, akan dengan mudah diatasi dengan memberdayakan lahan kritis tersebut menjadi lahan produktif bahkan berdampak secara lingkungan dan ekonomis.

Persoalan kedua, berupa dampak sosial terhadap pegawai dan masyarakat akan teratasi melalui pelibatan mereka dalam kegiatan produktif pengelolaan produksi pertanian, peternakan dan bisnis yang berkembang dari komoditas yang diusahakan.

Persoalan ketiga berupa kekuatiran lingkungan tambang menjadi daerah yang ‘mati’ secara ekonomi dan menjadi ‘ghous town’ , metode ini akan membuktikan sebaliknya. Ekonomi akan bertumbuh berbasis agribisnis, terciptanya micro finance untuk mendukung usaha yang dijalankan, pelibatan masyarakat sekitar dengan eks tambang menjadi satu simbiosa mutualisme melalui kegiatan inti-plasma yang akan dikembangkan, serta dalam jangka panjang kawasan menjadi terbuka dengan masuknya pelaku pelaku ekonomi terkait agribisnis dan kemungkinan pengembangan wisata agro.

Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan investasi pada awal-awal kegiatannya, dan seiring berjalannya waktu investasi akan semakin menurun seiring dengan mulai munculnya produk yang bernilai ekonomis dan sosial. Pengembangan infrastruktur dan fasilitas agrobisnis menjadi hal pertama yang harus dilakukan, seiring dengan penyiapan sumber daya yang trampil untuk mengelola kegiaan teknis produksi. Selanjutnya ketika kegiatan produksi dijalankan, pasar mulai dikembangkan.

Pemilihan komoditas yang akan dikembangkan baik bidang pertanian, peternakan maupun komoditas lain yang akan dilibatkan, didasarkan pada pertimbangan keterkaitan proses produksi antar komoditas (menjamin terjadinya aliran energi yang harmonis), peluang pasar (market driven), serta kerumitan proses budidaya dan penanganan pasca panen.

 

TUJUAN PROGRAM

  1. Pemanfaatan lahan pasca tambang untuk kegiatan produktif yang menjamin pengelolaan kawasan yang berkelanjutan dan berdampak positif baik dari aspek  lingkungan (biotik, fisik dan kimiawi), sosial dan ekonomi.
  2. Pengembangan komoditas pertanian dan peternakan serta komoditas lain yang dirasa perlu, dalam suatu aliran energi tertutup untuk menghasilkan output berupa produk yang bernilai ekonomis (food, feed, fertilizer dan fuel)
  3. Pemberdayaan sumber daya manusia untuk mengelola dan mengembangkan unit pertanian terpadu yang dibangun, agar bisa berjalan secara berkelanjutan dan mandiri.
  4. Membangun kemitraan proses bisnis bidang agro dengan masyarakat luas, melalui kerjasama inti-plasma maupun metode lain yang dinamis sesuai dengan kondisi eksisting terkini selama proses berjalan.
  5. Dalam jangka panjang, akan berdampak luas pada pengembangan ekonomi wilayah dan daerah, sehingga bisa diharapkan menjadi kawasan  ekonomi baru yang dikembangkan berwawasan ramah lingkungan.

 

METODOLOGI

Pengembangan pertanian terpadu ini akan dijalankan dengan melalui beberapa tahapan :

  1. Melakukan design pengembangan kawasan, dengan melakukan zonasi berdasarkan komoditas dan aliran energi yang akan dikembangkan. Jika perusahaan telah memiliki konsepnya, maka bisa langsung dijalankan setelah dilakukan review bersama dengan pihak perusahaan.
  2. Menyiapkan konsep pengelolaan berkelanjutan untuk paling tidak 3 – 5 tahun yang menjamin keberlanjutan dan keberhasilan pengelolaan kawasan produksi pertanian terpadu.
  3. Pengembangan fasilitas fisik baik bidang pertanian, peternakan maupun bidang lain (misalnya perikanan), sesuai dengan design dan zonasi yang telah ditetapkan.
  4. Penyiapan sumber daya manusia lokal (dari perusahaan) untuk mampu dan terampil mengelola unit-unit produksi yang akan dikembangkan, dengan melakukan serangkain training baik insitu maupun eksitu (difasiltas pertanian terpadu milik mitra PT Green Persada yang juga telah dikembangkan oleh PT Green Persada sebelumnya).
  5. Menyiapkan manajemen untuk menjalankan proses produksi paling tidak selama 3-5 tahun, untuk menjamin keberhasilan dan keberlanjutan program.

Copyright 2008 - 2018 by greenpersada.co.id